Kamis, 08 Mei 2008

Mahasiswa Keberatan dengan Kebijakan Kampus

Mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya Jaringan Mahasiswa Bergerak (JMB) kembali aksi turun ke kampus alias berunjuk rasa di halaman kampus STAIN Purwokerto dan di depan Gedung Rektorat pada Rabu, 7 Mei 2008 kemarin. Dalam orasinya mereka menuntut beberapa hal terkait kebijakan yang dikeluarkan pihak birokrasi kampus yang selama ini tidak populis di kalangan mahasiswa. Di satu sisi pihak birokrasi kampus dinilai kurang tegas dalam menyikapi aturan terkait surat edaran dari Dikti, sementara di sisi lain kebijakan yang dikeluarkan tidak mempertimbangkan aspek psikologis dan sosiologis mahasiswa.
Mereka memulai aksinya sekitar pukul 09.30 di halaman kampus (sebut saja prapatan menceng) dengan berorasi dan membag-bagikan selebaran kepada mahasiswa yang berisi tuntutan dan ajakan kepada mahasiswa untuk ikut peduli terhadap keadaan kampus atas kebijakan yang dikeluarkan rektorat dan mengkritisinya. Kemudian mereka berjalan mengelilingi kampus dan akhirnya berorasi di halaman kampus sebelum akhirnya diterima dan melakukan audiensi di ruang sidang di lantai 2 (bersambung).

Minggu, 04 Mei 2008

Seminar Nasional "Agama dan Solidaritas Bangsa"

Di tengah munculnya berbagai aliran dan kepercayaan yang akhir-akhir ini mulai menggeliat di masyarakat Indonesia yang sempat ter-blow up oleh media, memunculkan berbagai respon dan reaksi berbeda dari masyarakat, tokoh masyarakat, cerdik cendekia, dan pemerintah sehingga tak jarang truth claim (klaim kebenaran) terdengar di sana sini, "sesat-menyesatkan" dengan berbagai aksinya, mulai dari fatwa hingga pembakaran rumah ibadah merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari.

Sementara itu, Indonesia sebagai negara multi kultural, multi etnis, multi suku, multi agama dan multi-multi yang lain kini keberadaannya mulai terancam. Untuk meredam itu berbagai upaya dilakukan untuk meredam ketegangan yang memungkinkan terjadinya konflik horisontal atas nama agama. Maka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan landasan Pancasila adalah sesuatu yang final harus kita jaga dan usung bersama demi keutuhannya.

Melalui forum seminar nasional bertajuk "Agama dan Solidaritas Bangsa" inilah yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Purwokerto pada Selasa, 29/04/2008 di Auditorium STAIN Purwokerto yang diharapkan ada upaya mencari titik temu diantara beberapa ormas-ormas Islam yang ada dalam rangka membangun solidaritas bangsa di tengah krisis multidimensi.

Dalam seminar tersebut menghadirkan pembicara yang merupakan representasi ormas besar Islam Indonesia yang ada saat ini. Diantaranya Dr. Masdar Farid Mas'udi (PBNU), Dr. Choeril Anwar (PP Muhammadiyah), Ir. Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir) dengan moderator Drs. A. Lutfi Hamidi, M.Ag. (Dosen Jurusan Syari'ah STAIN Purwokerto).

Dalam berbagai paparan yang disampaikan diantara ketiga narasumber tersebut disimpulkan bahwa ketiga ormas Islam itu mempunyai upaya konkret yang dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Muhammadiyah mengusung amal usaha Muhammadiyah melalui pendidikan dan kesehatan, NU melalui Budaya sedang Hizbut Tahrir mengusung politik dengan isu yang lontarkankan adalah Khilafah. Barangkali inilah yang menjadi titik temu diantara ormas-ormas Islam tersebut dalam rangka membangun solidaritas bangsa. meskipun berjalannya seminar diwarnai lontaran-lontaran yang saling menyinggung satu sama lain.

Senin, 18 Februari 2008

Pilkades Desa Kutayu Berlangsung Aman

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tahap II di Kabupaten Brebes digelar bulan Januari 2008. Setelah 4 November 2007 lalu dilaksanakan Pemilihan Kepada Daerah (PILKADA) Brebes dengan memenangkan Indra Kusuma-Agung sebagai bupati Brebes yang dilantik pada 5 Desember 2007, kini giliran Pemilihan Kepala Desa Disejumlah Kecamatan. Khusus untuk Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes Pilkades digelar serentak pada Selasa, 22 Januari 2008 di 8 desa. Salah satu desa yang melaksanakan hajat tersebut adalah Desa Kutayu.
Desa yang berpenduduk kurang lebih 2.000 jiwa itu melangsungkan pemilihan kepala desanya hanya 2 calon, yaitu Tugas F.A. (Krajan II), dengan Nasroh (Krajan III). Pemilihan dimenangkan Nasroh dengan perolehan 830 suara sedangkan Tugas hanya mendapat 705 suara sehingga selisih hanya 125 suara. Ini yang membuat para pendukung Tugas agak kecewa meskipun tidak menimbulkan aksi anarkis. Pemilihan Kepada Desa untuk kali ini dinilai aman, indikasinya tidak ada teror ataupun bentuk anarkhisme pasca pemilihan. Hal ini berbeda seperti yang terjadi pada Pilkades tahun 1999 di mana terjadi teror terhadap salah satu rumah warga pendukung kepala desa terpilih.
Terpilihnya Nasroh sebagai kepala desa disambut baik warga pendukung. Mereka berdatangan untuk sekadar memberikan ucapan selamat dan ucapan rasa bangganya karena calon yang didukungnya menang. Nasroh yang didukung sebagian besar orang Bantar (krajan III) merupakan adik dari mantan kepala desa Nurohman yang menjabat dua periode sebelumnya. Isu yang muncul yang keluar dari mulut ke mulut selalu saja lapangan sepak bola yang berada di belakang rumah kakaknya Nurohaman yang masih Pjs. Lurah dan menjadi andalan untuk mengelabuhi massa karena jika jabatan kepala desa tidak berada di tangan keluarga H. Duklam-orang kaya di desa Kutayu yang memiliki lahan tanah yang luas-maka lapangan sepak bola seluas kurang lebih seluas ukuran lapangan sepak bola standard tersebut akan diratakan dijadikan lahan perkebunan sehingga inilah yang barangkali menjadi jurus ampuh lebih-lebih para pemuda yang gemar bermain sepak bola untuk meraih suara di saat pemilihan berlangsung.
Namun apapun hasil dari Pilkades kita harus hargai proses demokrasi yang sedang berlangsung meskipun tidak tahu berapa uang yang dihabiskan untuk membiayai pencalonan. Sebab untuk pencalonan kepala desa setingkat Kutayu, biaya administrasi yang harus ditanggung calon sekitar Rp 20 juta, jika terdapat 2 calon, berarti masing-masing calon harus membayar Rp 10 juta. Belum lagi untuk menjamu tamu dan warga yang berdatangan bisa mencapai puluhan juta. Belum lagi biaya pelantikan yang juga katanya ditanggung calon yang terpilih. Lahhh wisss embuuuh lah sedulur sing penting pada mangan, pada akur, aja pada gelutan wis titik. Dan semoga saja siapapun yang terpilih mampu mengemban amanat warga.

Minggu, 17 Februari 2008

Seminar Nasional "Membudayakan Kearifan Dalam Berpolitik"

Senin (18/02/08) digelar Seminar Nasional bertajuk "Membudayakan Kearifan Dalam Berpolitik" di Auditorium STAIN Purwokerto yang dibuka sekitar pukul 10.00 WIB oleh Ketua STAIN Purwokerto Drs. H. Khariri, M.Ag. dan Gubernur Jawa Tengah -diwakilkan- bertindak sebagai Keynote Speaker.

Acara yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto itu menghadirkan tiga nara sumber sekaligus yaitu Nasruddin Anshory Ch. (Pengasuh Pesan Trend Budaya, Analis Politik dan sekaligus penasihat spiritual Sri Sultan Hamengku Buwono X), DR. Ari Pradhanawati (Anggota KPUD Jawa Tengah), dan Ahmad Tohari (Budayawan Nasional asal Banyumas).

Menurut keterangan ketua Panitia Musmu'allim, semula panitia akan mendatangkan Masdar F. Mas'udi (Direktur P3M Jakarta) namun beberapa hari menjelang acara dia memberitahukan kepada panitia bahwa dia tidak bisa hadir karena harus menghadiri acara PBNU. Sebagai alternatif maka panitia mendatangkan Nasruddin Anshory Ch. yang mewakili unsur pengamat, sedang Ahmad Tohari berbicara dalam perspektif budaya dan Dr. Ari Pradhanawati berbicara dalam kapasitasnya dia sebagai praktisi.

Peserta yang memenuhi ruangan Auditorium cukup antusias untuk mengikuti seminar terbukti sertifikat yang disediakan panitia berjumlah 150 buah habis bahkan masih kurang. Peserta yang diundang oleh panitia terdiri dari kalangan Guru, Dosen, anggota Partai, LSM dan beberapa perwakilan ormas.


Jumat, 15 Februari 2008

Mahasiswa Mempertanyakan Biaya Praktikum

Mahasiswa yang tergabung dalam Jaringan Mahasiswa Bergerak (JMB) melakukan unjuk rasa di depan kampus STAIN Purwokerto pada Sabtu (16/02/08). Massa yang terdiri dari 50 orang itu melakukan aksi berjalan tertib tanpa anarkhis. Aksi dimulai pada pukul 09.30 WIB dengan melakukan orasi di halaman kampus tepatnya di perempatan menceng (orang menyebutnya). Kemudian mereka berjalan ke halaman kantor pusat yang menjadi tempat tuntutan mereka. Lantas sekitar pukul 10.15 WIB mereka berjalan mengelilingi kampus untuk mengajak dan mencari simpati mahasiswa lain untuk bergabung.

Orasi dilakukan secara bergantian oleh para mahasiswa. Dalam tuntutannya mereka menyampaikan tiga hal. Pertama, keamanan dan kenyaman kampus, karena selama ini dinilai kampus dianggap rentan tindakan kriminal, dipicu dari hilangnya kendaraan bermotor roda dua milik salah seorang mahasiswa yang sampai sekarang belum diusut dan belum tertangkap siapa pelakunya, begitu juga dengan perlengkapan motor, helm. Kemudian bobolnya kantor pusat STAIN Purwokerto dengan kehilangan printer dan beberapa perlatan kantor lainnya menunujukkan minimnya keamanan kampus.

Kedua, mereka menuntut kebijakan 5 hari dianggap cuti bagi yang tidak melakukan registrasi terhitung mulai hari terakhir pembayaran ditinjau ulang karena merugikan mahasiswa. Mereka juga menyinggung mengenai pelayanan Kartu Rencana Studi (KRS) dan Kartu Hasil Studi (KHS). KRS mendahului KHS, "mestinya KHS dulu baru KRS semester selanjutnya, namun ini terbalik" ujar Turhamun salah seorang orator.

Ketiga, mereka mempertanyakan biaya praktikum. Mulai Tahun Akademik 2008-2009 mahasiswa baru dikenai biaya praktikum. Mereka menuntut kejelasan biaya tersebut bahkan kalau bisa dihapuskan saja. Karena kenyataannya fasilitas yang didapat maupun yang lain masih sama. Mugi Prastia ((Ki Bejo), koordinator lapangan aksi tersebut mengatakan aksi itu akan berlanjut jika pihak pimpinan tidak respon. Namun sayangnya tuntutan mereka tidak bisa langsung ditanggapi karena para pimpinan, dosen dan sebagian karyawan sedang melaksanakan RAKOR di Baturraden.

Massa membubarkan diri pada pukul 10.40 WIB setelah mereka diterima oleh staf Pembantu Ketua III STAIN Purwokerto Sunaryo, M.Pd. mengingat seluruh jajaran pimpinan, dosen dan beberapa karyawan sedang mengadakan RAKOR di Baturraden. Sunaryo mengatakan menerima tuntutan mahasiswa tersebut dan berjanji akan menyampaikan tuntutan itu kepada pimpinan serta dia mengucapkan terima kasih karena mereka melakukan aksi dengan santun (tanpa bertindak anarkhis, red.). Dia meminta mahasiswa untuk kembali melakukan aktifitas kuliah. (el-nasya)